

Scoping review adalah jenis tinjauan literatur yang memetakan luas, ragam, dan sifat bukti pada suatu topik secara sistematis, bukan menilai efektivitas suatu intervensi. Untuk menyusunnya, Anda merumuskan pertanyaan dengan kerangka PCC, mengikuti enam tahap Arksey dan O’Malley (2005) yang disempurnakan Levac dkk. (2010), menyiapkan protokol, lalu melaporkan hasilnya dengan pedoman PRISMA-ScR. Panduan ini membahas langkah-langkah tersebut satu per satu, dengan contoh topik yang dekat dengan skripsi, tesis, dan artikel jurnal di Indonesia.
Scoping review (sering diterjemahkan sebagai “tinjauan cakupan”) adalah jenis sintesis pengetahuan yang memakai pendekatan sistematis dan iteratif untuk mengidentifikasi dan menyintesis literatur yang sudah ada atau sedang berkembang pada suatu topik. Tujuan utamanya adalah memetakan luas, ragam, dan sifat literatur serta mengidentifikasi kemungkinan kesenjangan pengetahuan (Mak & Thomas, 2022; MUSC Libraries).
Kata kuncinya adalah memetakan. Scoping review menjawab pertanyaan “apa saja yang sudah diteliti, dengan cara apa, dan di mana celahnya?”, bukan “intervensi mana yang paling efektif?”. Jika Anda ingin melihat posisi scoping review di antara jenis tinjauan lain (naratif, sistematis, meta-analisis, dan seterusnya), silakan baca artikel perbedaan systematic literature review dan literature review. Artikel ini berfokus pada cara melakukannya.
Munn dkk. (2018) merumuskan enam indikasi penggunaan scoping review. Daftar lengkapnya sudah dibahas di artikel perbedaan jenis review di atas. Di sini, indikasi tersebut kami terjemahkan menjadi situasi yang sering dihadapi mahasiswa dan dosen:
Keduanya sama-sama memakai pencarian yang sistematis dan transparan. Perbedaannya terletak pada tujuan dan perlakuan terhadap bukti.
| Aspek | Scoping review | Systematic literature review |
|---|---|---|
| Tujuan | Memetakan luas, ragam, dan sifat bukti | Menjawab pertanyaan spesifik, misalnya efektivitas |
| Pertanyaan | Lebih luas; kriteria inklusi relatif longgar | Sempit dan terfokus |
| Kerangka pertanyaan | PCC (Population, Concept, Context) | Umumnya PICO untuk pertanyaan efektivitas |
| Penilaian kualitas / risiko bias | Umumnya tidak dilakukan, kecuali tujuan review menuntutnya | Dilakukan sebagai bagian inti |
| Sintesis | Deskriptif: pemetaan numerik dan tematik | Sintesis terkritisi, dapat berupa meta-analisis |
| Pedoman pelaporan | PRISMA-ScR | PRISMA 2020 |
Sumber: diringkas dari Munn dkk. (2018), Mak & Thomas (2022), dan NYMC Library.
Contoh perbedaan pertanyaannya:
Karena tidak ada penilaian kualitas, scoping review tidak dirancang untuk menarik kesimpulan tentang efektivitas. Jika tujuan Anda memang menilai kekuatan bukti, pelajari quality assessment dan metode PRISMA untuk SLR.
Kerangka PCC dipakai untuk merumuskan pertanyaan scoping review (NYMC Library):
PCC berbeda dari PICO yang menuntut pembanding (Comparison) dan hasil (Outcome). Scoping review tidak selalu membandingkan apa pun, sehingga PCC lebih pas.
Contoh (ilustrasi penulis):
| Elemen | Isi |
|---|---|
| Population | Mahasiswa keperawatan |
| Concept | Penggunaan simulasi virtual dalam pembelajaran |
| Context | Pendidikan tinggi di Asia Tenggara |
Pertanyaan: “Bagaimana simulasi virtual digunakan dalam pembelajaran mahasiswa keperawatan di perguruan tinggi Asia Tenggara, dan aspek apa saja yang telah diteliti?”
Levac dkk. (2010) menyarankan agar tujuan studi dirumuskan bersamaan dengan pertanyaan penelitian, serta konsep dan populasi didefinisikan dengan jelas sejak awal. Definisi yang kabur akan menyulitkan seleksi studi di tahap berikutnya.
Kerangka yang paling banyak dirujuk berasal dari Arksey dan O’Malley (2005), kemudian diperinci oleh Levac dkk. (2010). Berikut tahapan scoping review beserta rekomendasi praktisnya.
Rumuskan pertanyaan dengan PCC. Hindari pertanyaan yang terlalu luas sehingga hasil pencarian tidak terkelola, atau terlalu sempit sehingga lebih cocok untuk SLR (Mak & Thomas, 2022).
Levac dkk. menyarankan tim dengan keahlian konten dan metodologi yang memadai, serta keseimbangan antara kelengkapan cakupan dan kelayakan (waktu, tenaga, dana). Bila memungkinkan, libatkan pustakawan. Susun string pencarian dengan operator Boolean dan cari di beberapa basis data; panduan mencari jurnal Scopus dan Sinta dapat membantu. Pada tahap ini, JurnalFlow dapat membantu menelusuri jurnal dari Scopus, Sinta, OpenAlex, dan Crossref dalam satu ruang kerja.
Seleksi bersifat iteratif dan berbasis tim: review abstrak lalu artikel penuh, dengan rapat tim di beberapa titik untuk menyamakan pemahaman (Levac dkk., 2010). MUSC Libraries menganjurkan dua penyaring independen ditambah penengah bila terjadi perbedaan keputusan. Tetapkan kriteria inklusi dan eksklusi secara tertulis, dan bersiaplah menyempurnakannya setelah membaca sampel awal.
Charting adalah istilah scoping review untuk mencatat informasi kunci dari setiap studi. Levac dkk. menyarankan formulir charting disusun bersama tim dan diperlakukan secara iteratif: uji coba pada beberapa studi, lalu perbarui kolomnya. Contoh kolom: penulis dan tahun, negara, desain studi, populasi, konsep yang dikaji, konteks, dan temuan utama. Teknik pencatatannya mirip dengan ekstraksi data pada SLR, tetapi tanpa kolom penilaian kualitas.
Levac dkk. memecah tahap ini menjadi tiga langkah:
Arksey dan O’Malley menempatkan tahap ini sebagai opsional, sedangkan Levac dkk. menyarankannya sebagai komponen esensial. Contohnya, mendiskusikan hasil pemetaan dengan dosen klinik, praktisi pendidikan, atau pengambil kebijakan untuk menguji relevansi temuan.
Catatan: JBI juga menerbitkan panduan metodologi scoping review dalam JBI Manual for Evidence Synthesis, Bab 10. Jika program studi atau jurnal tujuan Anda merujuk JBI, baca bab tersebut langsung.
Protokol adalah rencana tertulis sebelum review dimulai: pertanyaan PCC, kriteria inklusi, strategi pencarian, cara seleksi, dan formulir charting. Protokol membantu menekan bias, meningkatkan transparansi, dan mencegah duplikasi penelitian (Universitas Airlangga). MUSC Libraries memasukkan protokol terdaftar sebagai salah satu elemen kunci scoping review.
Registrasi protokol scoping review dapat dilakukan di Open Science Framework (OSF) atau Figshare (NYMC Library). Logika penyusunannya serupa dengan protokol SLR, sehingga jika Anda pernah menyusun protokol berbasis PRISMA-P, strukturnya dapat diadaptasi.
Soal waktu, MUSC Libraries memperkirakan scoping review membutuhkan sekitar 6-12 bulan. Angka ini perkiraan; durasi nyata bergantung pada luas topik, jumlah studi, dan ukuran tim.
Pedoman pelaporan untuk scoping review adalah PRISMA Extension for Scoping Reviews (PRISMA-ScR) yang diterbitkan oleh Tricco dkk. dalam Annals of Internal Medicine 2018;169(7):467-473, doi: 10.7326/M18-0850.
Hal-hal yang perlu Anda ketahui:
Untuk menggambarkan alur seleksi studi (jumlah rekaman yang ditemukan, disaring, dikeluarkan, dan diinklusi), Anda dapat memakai alur seperti diagram PRISMA 2020, lalu menyesuaikannya dengan ketentuan PRISMA-ScR dan jurnal tujuan.
JurnalFlow adalah ruang kerja berbasis AI untuk mencari, menyaring, memetakan, dan menyintesis literatur, dengan kontrol keputusan tetap di tangan Anda. Untuk tahap identifikasi, Anda dapat memakai pencarian jurnal otomatis dari 100.000+ jurnal (Scopus, Sinta, OpenAlex, Crossref). Fitur Tren Publikasi dan Peta Koneksi membantu Anda melihat sebaran dan perkembangan topik, yang sejalan dengan tujuan pemetaan scoping review.
Pada tahap seleksi, fitur Screening dengan kriteria inklusi/eksklusi dan Kolaborasi Antar Tim memudahkan dua penyaring bekerja di proyek yang sama. Sintesis AI (paket Pro) dapat membantu merangkum isi artikel saat charting, tetapi hasilnya dihasilkan AI dan wajib Anda verifikasi terhadap naskah aslinya. Paket Starter Rp0 sudah mencakup 3 proyek, metode PRISMA, dan sitasi otomatis. Pelaporan PRISMA-ScR tetap Anda susun mengikuti checklist resminya.
Scoping review adalah metode untuk memetakan literatur, bukan menilai efektivitas. Mulailah dengan pertanyaan PCC yang jelas, ikuti enam tahap Arksey dan O’Malley dengan penyempurnaan Levac dkk., daftarkan protokol, lalu laporkan dengan PRISMA-ScR. Dengan alur yang tertib, hasil pemetaan Anda dapat menjadi dasar yang kuat untuk systematic review, proposal tesis, atau artikel jurnal.
Literature review naratif umumnya tidak mengikuti protokol dan pencarian sistematis. Scoping review memakai pencarian sistematis, kriteria inklusi tertulis, seleksi berbasis tim, dan pelaporan PRISMA-ScR, dengan tujuan memetakan bukti. Perbandingan lengkap jenis review ada di artikel perbedaan systematic literature review dan literature review.
Ikuti enam tahap: mengidentifikasi pertanyaan penelitian, mengidentifikasi studi relevan, seleksi studi, charting data, menyusun dan melaporkan hasil, serta konsultasi pemangku kepentingan (Arksey & O’Malley, 2005; Levac dkk., 2010). Siapkan protokol sebelum mulai.
Contoh topik (ilustrasi): penggunaan simulasi virtual dalam pendidikan keperawatan di Asia Tenggara, atau metode pengukuran stres akademik mahasiswa. Untuk contoh naskah nyata, cari artikel dengan kata “scoping review” pada judul di basis data seperti Scopus atau Sinta, lalu pelajari struktur pelaporannya.
Umumnya tidak. Munn dkk. (2018) menyebutkan penilaian risiko bias biasanya tidak dilakukan dalam scoping review, kecuali tujuan review secara khusus menuntutnya.
PRISMA-ScR (Tricco dkk., 2018), yang terdiri atas 20 item esensial dan 2 item opsional. Checklist resminya tersedia di situs PRISMA Statement.
MUSC Libraries memperkirakan sekitar 6-12 bulan. Durasi sebenarnya bergantung pada luas topik, jumlah studi yang ditemukan, dan ukuran tim Anda.
Siap membuat tinjauan literatur lebih terarah? Mulai petakan literatur topik Anda di satu ruang kerja, dengan keputusan inklusi tetap di tangan Anda.
Coba Gratis Sekarang — jurnalflow.com