

Cara menemukan research gap yang paling dapat dipertanggungjawabkan adalah lewat tinjauan literatur yang sistematis: kumpulkan studi yang relevan, ekstrak isinya ke dalam matriks literatur, lalu baca pola yang kosong, seragam, atau saling bertentangan. Setelah itu, gap yang Anda temukan perlu diverifikasi dengan pencarian ulang dan ditulis dalam kalimat yang jelas. Artikel ini membahas jenis-jenis research gap, enam langkah praktis, contoh matriks, uji kelayakan, dan template kalimat untuk proposal skripsi, tesis, atau disertasi Anda.
Research gap adalah bagian pengetahuan yang belum terjawab, belum diuji, atau masih bertentangan dalam literatur yang ada. Gap bukan sekadar “topik yang belum pernah diteliti”, melainkan celah yang dapat ditunjukkan dengan bukti dari penelitian terdahulu.
Tiga istilah ini sering tertukar di Bab 1:
Dosen penguji atau reviewer jurnal Sinta dan Scopus hampir selalu menanyakan gap karena gap adalah dasar justifikasi penelitian. Tanpa gap yang jelas, pertanyaan “mengapa penelitian ini perlu dilakukan?” sulit dijawab.
Salah satu kerangka yang banyak dirujuk adalah taksonomi tujuh research gap dari Miles, D. A. (2017), A Taxonomy of Research Gaps: Identifying and Defining the Seven Research Gaps, yang dipresentasikan dalam Doctoral Student Workshop di Dallas, Texas. Ringkasan dan sitasinya dapat Anda lihat di Lantern, University of Manchester dan Mind the research gap. Berikut parafrase ringkasnya. Kolom contoh pertanyaan adalah contoh ilustrasi dari penulis, bukan bagian dari tulisan Miles.
| Jenis gap | Tanda di literatur | Contoh pertanyaan (ilustrasi) |
|---|---|---|
| Evidence gap | Hasil penelitian saling bertentangan, atau temuan baru bertentangan dengan kesimpulan yang selama ini diterima | Mengapa pengaruh X terhadap Y positif di sebagian studi tetapi tidak signifikan di studi lain? |
| Knowledge (void) gap | Temuan yang dibutuhkan tentang topik tersebut belum ada | Bagaimana X terjadi pada konteks yang belum pernah dikaji? |
| Practical-knowledge conflict gap | Praktik di lapangan berbeda dari perilaku yang dinyatakan atau dari temuan riset yang sudah mapan | Mengapa praktik X di lapangan tidak sesuai dengan rekomendasi penelitian? |
| Methodological gap | Satu metode mendominasi sehingga variasi metode diperlukan untuk wawasan baru atau menghindari distorsi | Apa yang terungkap jika X dikaji secara kualitatif atau longitudinal? |
| Empirical gap | Temuan atau proposisi sudah dinyatakan tetapi belum diverifikasi secara empiris | Apakah proposisi X terbukti pada data lapangan? |
| Theoretical gap | Teori masih kurang, atau teori yang ada perlu diterapkan pada isu penelitian baru | Apakah teori Z dapat menjelaskan fenomena X? |
| Population gap | Populasi tertentu kurang terwakili atau kurang diteliti | Bagaimana X terjadi pada kelompok yang jarang dijadikan sampel? |
Membaca jurnal secara acak berisiko bias. Gap yang Anda “temukan” bisa saja sudah terisi oleh artikel yang tidak sempat Anda baca. Pendekatan sistematis, yaitu pertanyaan yang jelas, string pencarian, kriteria inklusi dan eksklusi, serta screening yang terdokumentasi, membuat klaim gap Anda dapat ditelusuri ulang oleh pembimbing maupun reviewer. Jika Anda belum yakin bedanya, baca perbedaan systematic literature review dan literature review.
Persoalan ini juga diakui di literatur metodologi. Müller-Bloch dan Kranz (2015) dalam ICIS 2015 Proceedings mencatat bahwa belum ada pedoman metodologis untuk mengidentifikasi research gap secara rigor dan dapat direplikasi, lalu mengusulkan sebuah kerangka berdasarkan analisis terhadap 40 literature review.
Mulailah dari topik yang cukup spesifik dan pertanyaan awal yang terarah. Untuk topik klinis atau intervensi, kerangka PICO (Population, Intervention, Comparison, Outcome) membantu memecah topik menjadi komponen yang dapat dicari.
Gabungkan kata kunci dan sinonimnya dengan operator Boolean (AND, OR, NOT), lalu jalankan di lebih dari satu database. Mengandalkan satu sumber membuat cakupan Anda sempit. Panduan cara mencari jurnal Scopus dan Sinta dapat menjadi titik awal. Catat string, database, dan tanggal pencarian.
Tentukan kriteria inklusi dan eksklusi sebelum membaca, misalnya rentang tahun, bahasa, jenis studi, dan konteks. Saring judul dan abstrak, kemudian teks lengkap. Keluarkan artikel dari jurnal yang meragukan agar gap Anda tidak dibangun di atas sumber yang lemah.
Inilah inti cara menemukan research gap. Buat tabel dengan kolom penulis-tahun, konteks atau negara, populasi, variabel atau konsep, teori, metode, temuan utama, serta keterbatasan dan saran penelitian lanjutan. Panduan teknisnya ada di artikel ekstraksi data.
Baca per kolom (vertikal) untuk melihat keseragaman: apakah metodenya hampir selalu sama, atau populasinya selalu dari kelompok yang sama? Baca per baris dan antarbaris (horizontal) untuk menemukan sel kosong, kombinasi variabel dan konteks yang belum diteliti, temuan yang bertentangan, serta saran penelitian lanjutan yang berulang. Perhatikan pula tren jumlah publikasi per tahun. Lalu petakan setiap pola ke jenis gap Miles. Langkah ini merupakan bagian dari sintesis data. Fitur Tren Publikasi di JurnalFlow dapat membantu Anda melihat pola publikasi suatu topik dari waktu ke waktu sebagai bahan pengamatan awal.
Lakukan pencarian ulang dengan sinonim, istilah dalam bahasa Inggris dan Indonesia, serta publikasi terbaru. Klaim “belum ada yang meneliti” baru layak ditulis jika pencarian ulang yang terdokumentasi tetap tidak menemukan studi yang mengisinya.
Tabel berikut adalah ilustrasi fiktif untuk latihan cara berpikir. Studi A sampai F tidak merujuk pada publikasi nyata, dan pola di dalamnya bukan klaim tentang kondisi literatur sebenarnya. Topik ilustrasi: adopsi pembayaran digital berbasis QRIS oleh pelaku UMKM.
| Studi (fiktif) | Konteks | Populasi | Metode | Temuan utama |
|---|---|---|---|---|
| Studi A | Kota besar di Jawa | Pedagang kuliner | Survei, SEM | Kemudahan penggunaan berpengaruh positif terhadap niat adopsi |
| Studi B | Kota besar di Jawa | UMKM fesyen | Survei, regresi | Kemudahan penggunaan berpengaruh positif |
| Studi C | Ibu kota provinsi di Sumatra | UMKM ritel | Survei, SEM | Kemudahan penggunaan tidak signifikan |
| Studi D | Kota besar di Jawa | Pedagang pasar | Survei, SEM | Kepercayaan menjadi faktor dominan |
| Studi E | Kota besar di Sulawesi | UMKM kuliner | Survei, regresi | Kemudahan penggunaan berpengaruh positif |
| Studi F | Kota besar di Jawa | UMKM jasa | Survei, SEM | Saran: kaji pelaku usaha di wilayah perdesaan |
Dari tabel ilustrasi ini, setidaknya tiga pola terlihat:
Ketiganya masih kandidat gap yang harus diverifikasi dan diuji kelayakannya.
Pola paragraf gap yang umum dipakai: konteks yang sudah diketahui, lalu apa yang belum diketahui atau bertentangan (dengan rujukan), lalu dampaknya, lalu bagaimana penelitian Anda mengisinya. Beberapa template kalimat:
Contoh paragraf utuh (ilustrasi, melanjutkan matriks fiktif di atas):
Penelitian mengenai adopsi pembayaran digital oleh UMKM di Indonesia umumnya dilakukan di kota besar dengan pendekatan survei kuantitatif [rujukan]. Hasilnya pun belum konsisten: kemudahan penggunaan dilaporkan berpengaruh positif di sejumlah studi [rujukan], tetapi tidak signifikan di studi lain [rujukan]. Selain itu, pengalaman pelaku usaha di wilayah perdesaan belum banyak terungkap, padahal kondisi infrastruktur dan kebiasaan transaksinya dapat berbeda. Oleh karena itu, penelitian ini mengkaji alasan adopsi dan penundaan adopsi pembayaran digital oleh pelaku UMKM perdesaan melalui pendekatan kualitatif.
Kesalahan umum yang perlu dihindari:
Alat bantu dapat mempercepat pencarian, pemetaan, dan pengelompokan literatur. Namun, keputusan apakah sesuatu benar-benar research gap tetap di tangan Anda sebagai peneliti.
JurnalFlow dirancang sebagai ruang kerja untuk proses tersebut. Anda dapat mencari literatur dari database 100.000+ jurnal (Scopus, Sinta, OpenAlex, Crossref) di satu tempat, melihat pola publikasi melalui Tren Publikasi, dan menelusuri hubungan antarliteratur melalui Peta Koneksi. Kedua fitur ini berguna sebagai titik awal untuk mengamati area yang jarang dibahas, tetapi bukan bukti gap dengan sendirinya. Screening dengan kriteria yang Anda tetapkan dan metode PRISMA membantu proses tetap terdokumentasi. Pada paket Pro, Sintesis AI dapat menjadi asisten untuk merangkum temuan. Hasil AI perlu diverifikasi dengan membaca sumber aslinya sebelum digunakan.
Fitur tren dan koneksi sudah tersedia di paket Starter Rp0 dengan 3 proyek, sehingga Anda dapat mencobanya pada topik skripsi atau tesis Anda.
Research gap adalah bagian pengetahuan yang belum terjawab, belum diuji, atau masih bertentangan dalam literatur, yang ditunjukkan dengan bukti dari penelitian terdahulu.
Research gap adalah kekurangan di literatur, sedangkan novelty adalah kontribusi baru yang Anda tawarkan untuk mengisinya. Gap menjawab “apa yang belum diketahui”, novelty menjawab “apa yang ditambahkan penelitian ini”.
Menurut taksonomi Miles (2017), ada tujuh jenis: evidence gap, knowledge (void) gap, practical-knowledge conflict gap, methodological gap, empirical gap, theoretical gap, dan population gap.
Contohnya, jika semua studi tentang suatu topik dilakukan di kota besar dengan metode survei, maka konteks perdesaan dan pendekatan kualitatif dapat menjadi kandidat population gap dan methodological gap. Kandidat ini tetap perlu diverifikasi dengan pencarian ulang.
Bagian keterbatasan penelitian (limitations) dan saran penelitian lanjutan biasanya berisi petunjuk paling langsung, sedangkan bagian diskusi sering menyebut temuan yang bertentangan dengan studi lain.
Tidak ada angka pasti karena bergantung pada cakupan topik. Prinsipnya, lakukan pencarian sistematis yang terdokumentasi dan teruskan ekstraksi sampai pola dalam matriks literatur stabil, yaitu ketika studi tambahan tidak lagi mengubah gambaran yang Anda lihat.
Coba Gratis Sekarang — jurnalflow.com