
Cara mengelola referensi SLR yang baik dimulai jauh sebelum Anda menyusun daftar pustaka: Anda perlu satu struktur folder, satu log keputusan, dan jumlah artikel yang dapat ditelusuri di setiap tahap. Panduan ini menjelaskan enam langkah praktis, dari ekspor hasil pencarian hingga mencocokkan angka dengan diagram PRISMA 2020, lengkap dengan contoh tabel log screening dan checklist ringkas.
Pada skripsi atau tesis biasa, Anda mungkin hanya mengelola 30 sampai 60 referensi. Pada Systematic Literature Review (SLR), Anda dapat memulai dengan ratusan hingga ribuan rekaman dari beberapa database sekaligus, misalnya Scopus, Google Scholar, atau portal Sinta. Sebagian besar rekaman itu akan tersingkir, tetapi Anda tetap harus bisa menjelaskan mengapa.
Inilah perbedaan utama antara daftar pustaka biasa dan referensi SLR. Pada daftar pustaka, sebuah artikel hanya “dikutip” atau “tidak dikutip”. Pada SLR, setiap artikel memiliki status: ditemukan, duplikat, disaring pada judul dan abstrak, dikecualikan dengan alasan tertentu, dinilai pada teks lengkap, atau disertakan dalam sintesis. Status inilah yang harus dapat Anda pertanggungjawabkan.
Bila status tidak dicatat sejak awal, dampaknya baru terasa di akhir. Anda menyusun diagram PRISMA, lalu sadar bahwa jumlah artikel yang dikecualikan tidak cocok dengan jumlah yang tersisa, dan tidak ada jejak untuk menelusurinya. Pembimbing atau reviewer jurnal Sinta dan Scopus akan sulit memercayai proses yang tidak transparan.
Karena itu, mengelola referensi SLR sebaiknya diperlakukan sebagai bagian dari alur kerja metodologi, bukan sekadar urusan merapikan file.
Sebelum mengekspor satu pun hasil pencarian, putuskan struktur penyimpanan. Struktur yang sederhana namun konsisten lebih berguna daripada struktur rumit yang tidak dipatuhi.
Contoh struktur folder yang mengikuti tahap SLR:
01_hasil-pencarian-mentah — file ekspor apa adanya dari setiap database.02_setelah-deduplikasi — koleksi setelah duplikat digabung atau dibuang.03_lolos-screening-judul-abstrak — artikel yang lanjut ke tahap teks lengkap.04_teks-lengkap — artikel yang dinilai kelayakannya secara utuh.05_final — artikel yang disertakan dalam sintesis.Terapkan juga konvensi nama file, misalnya penulis_tahun_kata-kunci (contoh: Rahmawati_2022_literasi-digital). Konvensi ini memudahkan Anda mencari artikel tanpa membuka satu per satu, dan mencegah dua file berbeda memakai nama yang sama.
Tambahkan satu hal yang sering terlupa: versi string pencarian. Jika Anda mengubah kata kunci, beri nomor versi (v1, v2) dan simpan catatannya. Terakhir, tetapkan satu lokasi sebagai sumber kebenaran untuk seluruh tim, entah folder bersama, koleksi reference manager bersama, atau proyek di platform SLR. Salinan yang tersebar di laptop masing-masing anggota adalah awal dari kekacauan versi.
Setiap kali Anda menjalankan pencarian, catat empat hal: nama database, string pencarian yang persis digunakan, tanggal akses, dan jumlah hasil yang muncul. Catatan ini kelak menjadi dasar angka “rekaman teridentifikasi” pada diagram PRISMA 2020 dan memenuhi tuntutan keterulangan (reproducibility) dalam SLR.
Format ekspor yang umum tersedia adalah RIS, BibTeX, dan CSV. RIS dan BibTeX dibaca oleh sebagian besar reference manager, sedangkan CSV memudahkan Anda membuka hasil di spreadsheet. Simpan file ekspor mentah di folder pertama dan jangan menyuntingnya; semua perubahan dilakukan pada salinan kerja.
Contoh pencatatan sederhana untuk SLR tentang literasi digital mahasiswa:
| Database | Tanggal akses | String (versi) | Hasil |
|---|---|---|---|
| Scopus | 3 Okt 2026 | v2 | 412 |
| Sinta/Garuda | 3 Okt 2026 | v2 | 138 |
| Google Scholar | 4 Okt 2026 | v2 | 250 (diambil 250 teratas) |
Angka di atas hanya ilustrasi. Bila Anda masih menyusun string pencarian, pelajari terlebih dahulu cara memakai operator Boolean pada pencarian jurnal agar hasil lebih relevan dan lebih mudah didokumentasikan.
Duplikat hampir pasti muncul karena artikel yang sama terindeks di lebih dari satu database. Duplikat juga muncul ketika versi preprint dan versi terbit dari satu karya sama-sama ada di hasil pencarian.
Reference manager dapat membantu menemukannya. Sebagai contoh, dokumentasi resmi Zotero menjelaskan bahwa fitur deteksi duplikatnya membandingkan item berdasarkan judul, DOI, dan ISBN, lalu memeriksa tahun serta pengarang. Dokumentasi tersebut juga menyarankan penggabungan (merge) duplikat, bukan sekadar menghapusnya. Dengan merge, informasi dari item-item yang sama disatukan ke satu item, sehingga Anda tidak kehilangan metadata. Informasi ini kami rujuk dari dokumentasi Zotero tentang deteksi duplikat (dicek 1 November 2026); periksa dokumentasi terbaru karena fitur dapat berubah.
Beberapa hal perlu Anda perhatikan:
Jangan menghapus duplikat sebelum jumlahnya tercatat. Itu kesalahan paling umum, dan sulit diperbaiki setelah file asli tertimpa.
Setelah deduplikasi, mulailah screening judul dan abstrak. Di sinilah log keputusan paling berharga. Setiap artikel diberi status, dan setiap artikel yang dikecualikan diberi alasan yang mengacu langsung pada kriteria inklusi dan eksklusi di protokol Anda.
Berikut contoh log screening yang bisa Anda salin ke spreadsheet:
| ID | Penulis, tahun | Tahap | Keputusan | Alasan eksklusi | Reviewer | Catatan |
|---|---|---|---|---|---|---|
| 001 | Rahmawati, 2022 | Judul/abstrak | Lanjut | – | A | Populasi mahasiswa S1 |
| 002 | Santoso, 2019 | Judul/abstrak | Eksklusi | Di luar rentang tahun (E1) | A | Rentang 2020-2025 |
| 003 | Lim, 2021 | Teks lengkap | Eksklusi | Bukan studi empiris (E3) | B | Artikel opini |
| 004 | Putri, 2023 | Teks lengkap | Disertakan | – | A | Lanjut ke ekstraksi |
| 005 | Nugroho, 2020 | Judul/abstrak | Ragu | – | B | Dibahas bersama |
Gunakan kode alasan (E1, E2, E3) yang merujuk ke daftar kriteria eksklusi. Dengan begitu, jumlah artikel per alasan eksklusi pada tahap teks lengkap dapat Anda hitung dengan mudah untuk dilaporkan.
Jika Anda belum nyaman menilai relevansi dari abstrak, baca panduan cara membaca jurnal dengan cepat untuk screening abstrak SLR. Bila bekerja berdua atau lebih, tetapkan aturan penyelesaian perbedaan keputusan sebelum screening dimulai, misalnya: perbedaan dibahas bersama, dan jika tetap tidak sepakat, pihak ketiga memutuskan. Detail alurnya ada di artikel screening artikel systematic review bersama tim.
Diagram alir PRISMA 2020 meringkas perjalanan artikel Anda dari identifikasi, penyaringan, hingga yang disertakan. Prinsipnya sederhana: setiap angka pada diagram harus dapat ditelusuri ke folder atau log Anda. Rujukan resmi bentuk diagramnya tersedia di halaman PRISMA 2020 flow diagram; untuk penjelasan langkah demi langkah dan contohnya, lihat artikel kami tentang diagram PRISMA 2020.
Lakukan rekonsiliasi sederhana:
Cek akhir yang penting: tidak boleh ada artikel tanpa status. Filter kolom “Keputusan” pada log Anda; jika ada sel kosong, artikel itu belum selesai diproses.
Sebelum masuk ke ekstraksi, lengkapi metadata setiap artikel final: DOI, tahun, nama jurnal, dan jenis studi. Metadata yang lengkap mempercepat ekstraksi dan mencegah salah kutip. Panduan format kolom ekstraksi tersedia di artikel ekstraksi data systematic literature review.
Untuk sitasi, manfaatkan kemampuan reference manager atau platform Anda dalam membuat format sitasi secara otomatis. Namun, hasil otomatis tetap perlu diperiksa manual: nama penulis, tahun, dan huruf kapital judul sering memerlukan koreksi agar sesuai pedoman jurnal atau kampus yang Anda tuju.
Reference manager seperti Zotero dan Mendeley kuat untuk mengumpulkan, mengorganisasi, dan mensitasi koleksi referensi. Keduanya banyak dipakai mahasiswa dan dosen, dan untuk kebutuhan daftar pustaka biasa, alat semacam ini sudah memadai. Karena fitur dan ketentuan layanan tiap aplikasi dapat berubah, cek selalu situs resminya untuk detail terkini.
Untuk SLR, kebutuhannya lebih luas: mencari, menyaring dengan kriteria, mencatat keputusan, dan melaporkan alur PRISMA. Di sinilah platform SLR dapat membantu. JurnalFlow menyatukan pencarian jurnal otomatis (basis 100.000+ jurnal dari Scopus, Sinta, OpenAlex, dan Crossref), metode PRISMA, screening, sitasi otomatis, serta kolaborator tim dalam satu proyek. Paket Starter tersedia gratis (Rp0) dengan 3 proyek; paket Pro Rp98.500 per bulan menambah proyek tanpa batas, bebas iklan, dan sintesis AI.
AI di JurnalFlow berperan sebagai asisten. Keputusan memasukkan atau mengecualikan artikel tetap berada di tangan Anda, dan hasil yang dihasilkan AI tetap perlu diverifikasi sebelum digunakan.
| Kebutuhan | Reference manager | Platform SLR seperti JurnalFlow |
|---|---|---|
| Menyimpan dan mensitasi koleksi pustaka | Sangat cocok | Tersedia (sitasi otomatis) |
| Mengorganisasi file dan catatan pribadi | Sangat cocok | Dalam proyek SLR |
| Pencarian jurnal dari banyak sumber | Terbatas pada fitur impor | Pencarian jurnal otomatis |
| Screening dengan kriteria dan status | Perlu spreadsheet tambahan | Screening dalam proyek |
| Alur kerja sesuai PRISMA | Dilakukan manual | Metode PRISMA |
| Kerja tim dalam satu proyek | Bergantung fitur masing-masing | Kolaborator tim |
Kedua pendekatan tidak saling meniadakan. Banyak peneliti tetap memakai reference manager untuk koleksi pribadi sambil menjalankan SLR di platform khusus. Yang terpenting, kontrol keputusan tetap di tangan Anda.
Beberapa kesalahan yang paling sering terjadi:
Tidak ada kewajiban umum untuk memakai aplikasi tertentu. Yang diatur biasanya format sitasi (APA, IEEE, dan sebagainya) menurut pedoman kampus atau jurnal. Anda bebas memakai reference manager apa pun, atau bahkan menyusun manual, selama formatnya sesuai. Periksa pedoman penulisan program studi atau jurnal tujuan Anda.
Secara umum, reference manager mendukung impor dan ekspor melalui format standar seperti RIS atau BibTeX, sehingga koleksi dapat dipindahkan antar aplikasi. Namun, kelengkapan metadata setelah dipindahkan dapat berbeda. Periksa hasilnya, terutama DOI dan nama penulis, serta cek dokumentasi resmi masing-masing aplikasi untuk langkah terbaru.
Secara ringkas: rumuskan pertanyaan penelitian (misalnya dengan kerangka PICO), susun protokol dan kriteria inklusi/eksklusi, cari di beberapa database, hapus duplikat, lakukan screening, nilai kualitas, ekstraksi data, lalu sintesis. Panduan lengkapnya ada di cara membuat systematic literature review untuk skripsi dan tesis.
Struktur umumnya terdiri dari pendahuluan, metode pencarian dan seleksi literatur, pembahasan temuan yang dikelompokkan per tema atau kronologi, diskusi mengenai celah penelitian, serta kesimpulan. Pada SLR, bagian metode lebih rinci karena memuat strategi pencarian, kriteria, dan diagram PRISMA.
Mengelola referensi SLR pada dasarnya adalah soal disiplin mencatat: struktur yang jelas, log yang lengkap, dan angka yang bisa ditelusuri. Anda dapat menjalankan seluruh alur ini dengan spreadsheet dan reference manager, atau mencoba menyatukannya dalam satu proyek bersama JurnalFlow.
Coba Gratis Sekarang — jurnalflow.com