

Perbedaan systematic literature review dan literature review terletak pada metodenya: literature review naratif merangkum literatur secara fleksibel berdasarkan penilaian penulis, sedangkan systematic literature review (SLR) memakai protokol, kriteria eligibilitas yang ditetapkan di awal, dan langkah eksplisit yang dapat direplikasi. Artikel ini juga membahas meta-analisis, scoping review, dan umbrella review, lengkap dengan tabel perbandingan dan panduan memilih yang tepat untuk skripsi, tesis, disertasi, atau artikel jurnal Anda.
Di banyak prodi, label “SLR” kini sering muncul di judul skripsi dan tesis. Masalahnya, tidak sedikit naskah yang menyebut dirinya systematic literature review padahal prosesnya masih naratif: tidak ada protokol, kriteria inklusi dan eksklusi tidak ditulis, dan alur seleksi artikel tidak dilaporkan. Kesalahpahaman lain juga muncul ke arah sebaliknya, yaitu anggapan bahwa SLR selalu harus berisi meta-analisis.
Jenis review memang beragam. Grant dan Booth (2009) menganalisis 14 jenis review dengan kerangka SALSA (Search, AppraisaL, Synthesis, Analysis). Artikel ini berfokus pada lima jenis yang relevan bagi mahasiswa S1/S2/S3, dosen pembimbing, dan peneliti pemula: literature review naratif, SLR, meta-analisis, scoping review, dan umbrella review.
Tabel berikut merangkum kelima jenis tinjauan. Baris beban kerja hanya gambaran relatif, bukan ukuran waktu.
| Aspek | Literature review naratif | Systematic literature review (SLR) | Meta-analisis | Scoping review | Umbrella review |
|---|---|---|---|---|---|
| Tujuan | Merangkum dan membahas literatur untuk landasan teori | Mengumpulkan dan menyintesis bukti untuk menjawab pertanyaan spesifik | Menggabungkan estimasi efek secara statistik | Memetakan jenis bukti, konsep, dan kesenjangan | Merangkum temuan dari sejumlah systematic review |
| Pertanyaan penelitian | Luas | Spesifik dan dirumuskan dengan jelas | Spesifik, dengan outcome yang dapat dikuantifikasi | Luas dan eksploratif | Spesifik atau luas, di tingkat review |
| Protokol | Umumnya tidak ada | Ada, disusun di awal | Ada (bagian dari SR) | Pendekatan terstruktur sesuai tujuan pemetaan | Metode mengikuti panduan overview (Cochrane Handbook Bab V) |
| Pencarian | Bergantung pada pilihan penulis | Sistematis dan terdokumentasi | Sistematis (bagian dari SR) | Sistematis dan luas | Mencari systematic review, bukan studi primer |
| Kriteria inklusi/eksklusi | Jarang ditetapkan di awal | Ditetapkan di awal | Ditetapkan di awal | Ditetapkan sesuai tujuan pemetaan | Ditetapkan di awal untuk review |
| Penilaian kualitas/risiko bias | Umumnya tidak formal | Dilakukan | Dilakukan | Umumnya tidak dilakukan | Menilai review yang disertakan |
| Bentuk sintesis | Naratif | Naratif dan/atau statistik | Statistik | Pemetaan dan deskriptif | Ringkasan lintas review |
| Pedoman pelaporan/rujukan | Ketentuan prodi/jurnal | PRISMA 2020 | PRISMA 2020 | PRISMA-ScR | Panduan metodologi Cochrane Handbook Bab V |
| Beban kerja | Rendah hingga sedang | Tinggi | Tinggi | Sedang hingga tinggi | Tinggi |
Literature review naratif, atau kajian literatur, adalah tinjauan yang merangkum, membandingkan, dan membahas hasil penelitian terdahulu tentang suatu topik. Di Indonesia, istilah “tinjauan pustaka” biasanya merujuk pada bab 2 skripsi atau tesis, yang pada praktiknya berupa literature review naratif untuk membangun landasan teori dan kerangka berpikir.
Ciri utamanya:
Kelebihannya, literature review naratif fleksibel, cocok untuk bab tinjauan pustaka dan kerangka teori, serta tepat untuk topik yang masih berkembang. Keterbatasannya, prosesnya sulit direplikasi dan rentan bias seleksi.
Menurut pernyataan PRISMA 2020 (Page dkk., 2021), systematic review adalah review yang menggunakan metode eksplisit dan sistematis untuk mengumpulkan dan menyintesis temuan studi-studi yang menjawab pertanyaan yang dirumuskan dengan jelas. Cochrane Handbook versi 6.5 menambahkan bahwa systematic review berupaya menghimpun bukti yang memenuhi kriteria eligibilitas yang telah ditetapkan sebelumnya untuk menjawab pertanyaan penelitian yang spesifik.
Dari kedua definisi itu, ciri SLR dapat dirangkum sebagai berikut:
Systematic review dan systematic literature review, apakah sama? Dalam praktik, kedua istilah dipakai bergantian. Pedoman seperti Cochrane Handbook dan PRISMA 2020 memakai istilah “systematic review”, sedangkan banyak skripsi, tesis, dan artikel di Indonesia memakai “systematic literature review” atau singkatan SLR. Yang menentukan bukan labelnya, tetapi apakah metodenya memenuhi ciri sistematis di atas.
Artikel ini tidak membahas langkah-langkah SLR secara rinci. Untuk itu, silakan baca panduan membuat SLR untuk pemula dan penjelasan tentang metode PRISMA.
PRISMA 2020 mendefinisikan meta-analisis estimasi efek sebagai teknik statistik untuk menyintesis hasil ketika estimasi efek dan variansnya tersedia dari studi-studi yang disertakan. Artinya, meta-analisis adalah bagian opsional dari systematic review, bukan jenis review terpisah yang dapat berdiri tanpa proses sistematis. Pencarian, seleksi, dan penilaian studi tetap dilakukan secara sistematis lebih dulu; meta-analisis hanya menjadi cara menyintesis hasilnya.
Cochrane Handbook versi 6.5 (Bab 10) menyebut tiga alasan melakukan meta-analisis:
Namun, meta-analisis tidak selalu tepat. Cochrane menegaskan bahwa meta-analisis hanya layak bila partisipan, intervensi, pembanding, dan outcome studi-studinya cukup serupa. Menggabungkan studi yang sangat berbeda diibaratkan mencampur “apel dan jeruk”. CASP juga menyatakan bahwa systematic review tidak selalu memiliki meta-analisis karena variasi data; meta-analisis memerlukan data yang cukup homogen dalam desain, populasi, dan intervensi.
Misalnya, tesis tentang pembelajaran berbasis proyek yang studinya memakai instrumen dan populasi sangat beragam lebih tepat disintesis secara naratif. PRISMA 2020 berlaku untuk review dengan maupun tanpa sintesis statistik, sehingga SLR tanpa meta-analisis tetap sah secara metodologis.
Munn dkk. (2018) menjelaskan enam indikasi melakukan scoping review:
Berbeda dengan SLR, penilaian risiko bias umumnya tidak dilakukan pada scoping review karena tujuannya memetakan, bukan menilai kekuatan bukti. Pedoman pelaporannya adalah PRISMA-ScR (Tricco dkk., 2018, Annals of Internal Medicine) yang terdiri atas 22 item: 20 item esensial dan 2 item opsional. Scoping review juga dapat membantu menentukan apakah sebuah systematic review memang diperlukan.
Umbrella review, yang di Cochrane Handbook disebut overview of reviews (Bab V), adalah review atas review. Unit pencarian, inklusi, dan analisisnya adalah systematic review, bukan studi primer. Jenis ini relevan ketika sudah banyak systematic review tentang satu topik dan Anda ingin merangkum temuannya secara utuh.
Gunakan pohon keputusan berikut sebagai titik awal. Mulailah dari pertanyaan pertama, lalu lanjutkan hanya jika jawabannya “tidak”.
Selain pohon keputusan di atas, perhatikan pertimbangan praktis berikut:
Jika Anda memilih SLR, mulailah dengan merumuskan pertanyaan PICO dan menetapkan kriteria inklusi dan eksklusi. Pada tahap pencarian dan screening, JurnalFlow dapat membantu dengan ruang kerja berstandar PRISMA.
Untuk mengecek apakah naskah Anda sudah memenuhi standar, baca juga ulasan tentang standar mutu SLR.
Jika Anda memilih SLR, JurnalFlow menyediakan satu ruang kerja berstandar PRISMA untuk mencari, menyaring, memetakan, dan menyintesis literatur, dengan kontrol keputusan penuh di tangan Anda. Pencarian dilakukan di 100.000+ jurnal dari Scopus, Sinta, OpenAlex, dan Crossref. Fitur Tren Publikasi dan Peta Koneksi membantu Anda melihat perkembangan topik dan hubungan antarpenelitian, yang juga berguna saat memetakan topik di tahap awal.
Pada tahap seleksi, fitur Screening membantu Anda menerapkan kriteria inklusi dan eksklusi, sementara Kolaborasi Antar Tim memudahkan lebih dari satu peninjau bekerja dalam proyek yang sama. Untuk tahap ekstraksi data dan sintesis, paket Pro menyediakan Sintesis AI sebagai asisten; hasilnya tetap perlu Anda baca, verifikasi, dan putuskan sendiri. Pelajari lebih lanjut peran AI untuk literature review secara bertanggung jawab.
Anda dapat memulai dengan paket Starter Rp0/bulan (3 proyek, metode PRISMA), lalu beralih ke paket Pro Rp98.500/bulan bila membutuhkan proyek tanpa batas dan Sintesis AI.
Perbedaan systematic literature review dan literature review pada dasarnya adalah perbedaan metode. Literature review naratif bersifat luas dan fleksibel. SLR bersifat sistematis dan dapat direplikasi. Meta-analisis adalah sintesis statistik di dalam systematic review, yang hanya layak bila datanya cukup homogen. Scoping review bertujuan memetakan bukti, sedangkan umbrella review adalah review atas sejumlah systematic review. Pilih jenis yang sesuai dengan pertanyaan penelitian Anda, bukan sekadar label di judul.
SLR termasuk metode penelitian sekunder, karena datanya berupa hasil studi yang sudah dipublikasikan. Metodenya eksplisit dan sistematis: protokol, pencarian terdokumentasi, kriteria eligibilitas yang ditetapkan di awal, seleksi, penilaian, dan sintesis. Sintesisnya bisa naratif, statistik (meta-analisis), atau keduanya.
SLR (systematic literature review) adalah review yang menggunakan metode eksplisit dan sistematis untuk mengumpulkan dan menyintesis temuan studi yang menjawab pertanyaan penelitian yang dirumuskan dengan jelas, sebagaimana didefinisikan dalam PRISMA 2020.
Dalam konteks skripsi dan tesis di Indonesia, tinjauan pustaka umumnya adalah bab yang berisi literature review naratif untuk membangun landasan teori. Istilah literature review lebih luas: dapat berupa review naratif maupun review sistematis yang berdiri sebagai penelitian tersendiri.
Dalam praktik, keduanya dipakai bergantian untuk merujuk pada review dengan metode sistematis. Cochrane Handbook dan PRISMA 2020 memakai istilah “systematic review”, sementara “systematic literature review” juga lazim ditemui di skripsi dan tesis. Yang penting adalah metodenya, bukan labelnya.
Tidak. Meta-analisis hanya dilakukan bila data studi cukup homogen dan estimasi efek beserta variansnya tersedia. CASP menyatakan bahwa systematic review tidak selalu memiliki meta-analisis, dan PRISMA 2020 berlaku untuk review dengan maupun tanpa sintesis statistik.
Istilah ini merujuk pada systematic review yang hasilnya disintesis dengan meta-analisis. Prosesnya tetap mengikuti tahapan systematic review, lalu estimasi efek dari studi-studi yang cukup serupa digabungkan secara statistik.
Seluruh sumber dicek pada 14 Oktober 2026.
Coba Gratis Sekarang — jurnalflow.com
3 Comments
[…] dalam skripsi dan tesis. Jika Anda ingin memahami perbedaan jenis review, baca dulu artikel perbedaan SLR, literature review naratif, dan meta-analisis. Artikel ini fokus pada tahap sintesis di dalam […]
[…] jenis tinjauan lain (naratif, sistematis, meta-analisis, dan seterusnya), silakan baca artikel perbedaan systematic literature review dan literature review. Artikel ini berfokus pada cara […]
[…] Membaca jurnal secara acak berisiko bias. Gap yang Anda “temukan” bisa saja sudah terisi oleh artikel yang tidak sempat Anda baca. Pendekatan sistematis, yaitu pertanyaan yang jelas, string pencarian, kriteria inklusi dan eksklusi, serta screening yang terdokumentasi, membuat klaim gap Anda dapat ditelusuri ulang oleh pembimbing maupun reviewer. Jika Anda belum yakin bedanya, baca perbedaan systematic literature review dan literature review. […]