

Sintesis data systematic literature review adalah tahap ketika temuan dari studi-studi yang sudah diekstraksi digabungkan dan dievaluasi untuk menjawab pertanyaan penelitian Anda. Bila meta-analisis tidak memungkinkan, dua jalur yang paling sering dipakai adalah sintesis naratif yang terstruktur untuk data kuantitatif yang heterogen dan sintesis tematik untuk temuan kualitatif. Panduan ini menjelaskan cara memilih keduanya, langkah kerjanya, contoh ilustratif, template tabel, dan cara melaporkannya sesuai PRISMA 2020.
Satu hal perlu ditegaskan sejak awal: sintesis naratif adalah metode sintesis di dalam sebuah SLR, sedangkan literature review naratif adalah jenis tinjauan pustaka yang tidak mengikuti protokol sistematis. Keduanya sering tertukar dalam skripsi dan tesis. Jika Anda ingin memahami perbedaan jenis review, baca dulu artikel perbedaan SLR, literature review naratif, dan meta-analisis. Artikel ini fokus pada tahap sintesis di dalam SLR.
Panduan perpustakaan RMIT University menggambarkan sintesis sebagai tahap dalam proses systematic review ketika data hasil ekstraksi dari studi individual digabungkan dan dievaluasi. Posisinya ada setelah pencarian, screening, ekstraksi data, dan penilaian kualitas atau risiko bias, serta sebelum penulisan laporan.
Ekstraksi mengambil data dari tiap studi ke dalam formulir; sintesis mengolah kumpulan data itu menjadi jawaban. Pembahasan rinci tentang formulir dan contohnya ada di artikel ekstraksi data SLR, jadi tidak diulang di sini.
Secara garis besar, ada tiga keluarga sintesis:
Perlu dicatat, PRISMA 2020 berlaku untuk systematic review yang memuat sintesis statistik maupun yang tidak. Jadi SLR tanpa meta-analisis tetap dapat dilaporkan secara lengkap dengan PRISMA.
Pilihan metode ditentukan oleh jenis data yang Anda kumpulkan dan pertanyaan penelitian, bukan oleh kebiasaan di program studi. Tabel berikut dapat menjadi titik awal.
| Kondisi data studi yang disertakan | Metode yang sesuai | Pedoman acuan |
|---|---|---|
| Estimasi efek kuantitatif yang cukup serupa (desain, outcome, ukuran) | Meta-analisis | PRISMA 2020 |
| Data kuantitatif heterogen, ukuran efek tidak lengkap, atau tanpa ukuran varians | Sintesis naratif terstruktur (sintesis tanpa meta-analisis) | Cochrane Handbook Bab 12, SWiM, PRISMA 2020 |
| Temuan kualitatif (pengalaman, persepsi, hambatan, pendorong) | Sintesis tematik | Thomas dan Harden (2008), PRISMA 2020 |
Pembahasan kapan meta-analisis layak dilakukan sudah ada di artikel perbedaan SLR dan literature review di atas. Hal yang perlu Anda perhatikan di sini: PRISMA 2020 item 13d meminta Anda melaporkan metode sintesis yang dipakai beserta rasional pilihannya di naskah review. Karena itu, sebaiknya metode sintesis sudah direncanakan sejak menyusun protokol, sejalan dengan pertanyaan penelitian yang dirumuskan dengan PICO atau kerangka sejenis.
Untuk SLR di bidang non-kesehatan seperti informatika, manajemen, atau pendidikan, banyak peneliti menggabungkan tabulasi terstruktur dengan analisis tematik. Itu sah, asalkan masing-masing metode dijelaskan secara eksplisit: data apa yang ditabulasi, bagaimana studi dikelompokkan, dan bagaimana tema dibangun.
Panduan ESRC oleh Popay dkk. (2006), sebagaimana dirangkum oleh University of Melbourne, mendefinisikan sintesis naratif sebagai pendekatan sintesis temuan dari banyak studi yang terutama mengandalkan kata dan teks untuk meringkas dan menjelaskan temuan tersebut. Panduan perpustakaan Imperial College London mencatat bahwa sintesis naratif dapat menjadi pendekatan yang lebih tepat untuk banyak review, karena tidak semua review berfokus pada ringkasan kuantitatif efek perlakuan.
Namun “naratif” tidak berarti bebas aturan. Cochrane Handbook Bab 12 meminta penulis melaporkan metode spesifik yang dipakai sebagai pengganti meta-analisis, bukan sekadar menyatakan telah melakukan “narrative synthesis” tanpa penjelasan. Pedoman SWiM juga mencatat kekurangan serius dalam pelaporan sintesis naratif: metode tidak dijelaskan, tidak ada kaitan transparan antara data tingkat studi dan teks kesimpulan, serta keterbatasan tidak dilaporkan dengan memadai.
Menurut kerangka Popay dkk. (2006), seperti dirangkum oleh Hong dkk. (2017), sintesis naratif memiliki empat elemen utama:
Pengelompokan studi, tabulasi terstruktur, dan tampilan visual adalah contoh teknik yang juga dibahas Cochrane dan akan dipakai pada langkah-langkah berikut.
Pengujian oleh Rodgers dkk. (2009), yang membandingkan sintesis naratif dengan meta-analisis pada data yang sama, menunjukkan bahwa kerangka panduan ini membantu transparansi dan reprodusibilitas sintesis.
Langkah berikut merangkum praktik yang dianjurkan Cochrane Handbook Bab 12 dan item pelaporan SWiM.
Tentukan pengelompokan yang bermakna, misalnya per jenis intervensi, populasi, jenjang pendidikan, atau outcome. Untuk tesis pendidikan tentang model pembelajaran, pengelompokan per outcome (hasil belajar kognitif, berpikir kritis, motivasi) biasanya lebih berguna daripada per tahun terbit.
Cochrane menganjurkan agar tabel dikelompokkan menurut karakteristik penting seperti risiko bias, ukuran studi, atau validitas ukuran, bukan sekadar urutan alfabet nama penulis. Struktur tabel sebaiknya mengikuti struktur sintesis di teks, yang mencerminkan pertanyaan review.
Bila meta-analisis tidak memungkinkan, Cochrane Handbook Bab 12 menyebut tiga metode yang dapat diterima:
Tampilan yang disebut Cochrane antara lain forest plot (tanpa estimasi gabungan), box-and-whisker plot, albatross plot, harvest plot, dan effect direction plot. Visual membantu pembaca melihat pola tanpa harus membaca setiap studi.
Jelaskan kemungkinan penyebab perbedaan hasil antarstudi, tingkat kepastian bukti, serta keterbatasan sintesis Anda. Artikel standar mutu systematic literature review membahas penilaian kepastian bukti dengan GRADE secara singkat.
Vote counting yang benar. Vote counting menjawab pertanyaan “apakah ada bukti efek?” dengan hanya melihat arah efek tiap studi (menguntungkan atau merugikan), sebagaimana dijelaskan dalam SWiM. Vote counting berdasarkan signifikansi statistik tidak termasuk metode yang dapat diterima menurut Cochrane: metode ini memiliki keterbatasan serius dan dapat menghasilkan kesimpulan keliru, karena studi kecil dengan efek yang penting bisa tergolong “tidak ada efek” hanya karena nilai P-nya tidak signifikan. Jadi hitung arah efeknya, bukan jumlah studi yang “signifikan”.
Catatan: data berikut fiktif, dibuat hanya untuk ilustrasi cara kerja, bukan hasil penelitian nyata.
Misalkan tesis Anda meninjau pengaruh pembelajaran berbasis proyek terhadap kemampuan berpikir kritis siswa SMP dan SMA. Enam studi lolos screening, sebagian terbit di jurnal Sinta dan sebagian di jurnal Scopus. Instrumen yang dipakai berbeda-beda dan dua studi tidak melaporkan simpangan baku, sehingga meta-analisis tidak layak.
Langkah Anda: kelompokkan studi per jenjang (SMP dan SMA), tabulasi arah efek tiap studi, urutkan berdasarkan risiko bias, lalu tulis sintesis per kelompok. Misalnya: “Pada kelompok SMA, tiga dari tiga studi menunjukkan arah efek yang menguntungkan, dua di antaranya berisiko bias rendah. Pada kelompok SMP, dua studi menguntungkan dan satu studi menunjukkan hasil campuran antarsubskala.” Kesimpulan kemudian dirumuskan dengan hati-hati, dengan mempertimbangkan jumlah studi yang sedikit dan perbedaan instrumen.
Sintesis tematik cocok bila pertanyaan review menyangkut pengalaman, persepsi, hambatan, dan pendorong, dan studi yang disertakan bersifat kualitatif. Salah satu metode yang banyak dirujuk adalah Thomas dan Harden (2008) dengan tiga tahap:
Dalam contoh kerja mereka, Thomas dan Harden mensintesis delapan studi kualitatif tentang pandangan anak usia 4 sampai 10 tahun mengenai hambatan dan pendorong makan sehat. Hasilnya 12 tema deskriptif dan 6 tema analitis, dengan bantuan software EPPI-Reviewer.
Tahap ketiga inilah yang membedakan sintesis dari sekadar ringkasan. Tema deskriptif menjawab “apa yang dilaporkan studi-studi”, sedangkan tema analitis menjawab “apa artinya bagi pertanyaan review saya”.
Perlu dibedakan juga antara sintesis tematik dalam SLR dan analisis tematik pada data wawancara primer. Panduan Yorkville University menjelaskan bahwa analisis tematik dapat memakai pendekatan codebook atau deduktif (tema ditentukan lebih dulu) maupun refleksif atau induktif (tema muncul dari data). Dalam SLR, “data” Anda adalah temuan studi yang sudah terbit, bukan transkrip wawancara Anda sendiri.
Catatan: data berikut fiktif, dibuat hanya untuk ilustrasi.
Misalkan SLR untuk skripsi Anda meninjau lima studi kualitatif tentang hambatan mahasiswa tingkat akhir dalam menyusun skripsi secara daring. Kode awal seperti “sinyal tidak stabil”, “jadwal bimbingan berubah”, dan “sulit menemukan jurnal relevan” dikelompokkan menjadi tema deskriptif “kendala akses” dan “kendala bimbingan”. Tema analitis yang mungkin muncul: “ketergantungan pada satu saluran komunikasi dengan pembimbing memperbesar dampak setiap gangguan teknis”. Tema ini tidak dinyatakan langsung oleh satu studi mana pun, tetapi ditarik dari pola lintas studi.
Salin template berikut ke dokumen atau spreadsheet Anda. Baris contoh bersifat ilustratif/fiktif.
Template A: sintesis naratif (data kuantitatif)
| Kelompok | ID studi | Desain | n | Outcome | Arah efek (+/-/campuran) | Risiko bias | Catatan |
|---|---|---|---|---|---|---|---|
| SMA | Studi 1 (fiktif) | Kuasi-eksperimen | 64 | Berpikir kritis | + | Rendah | Instrumen tes uraian |
| SMA | Studi 2 (fiktif) | Kuasi-eksperimen | 58 | Berpikir kritis | + | Sedang | Tanpa simpangan baku |
| SMP | Studi 3 (fiktif) | Pre-post satu kelompok | 30 | Berpikir kritis | Campuran | Tinggi | Hasil berbeda antarsubskala |
Template B: sintesis tematik (data kualitatif)
| Kode awal | Temuan studi asal (ID studi) | Tema deskriptif | Tema analitis |
|---|---|---|---|
| Sinyal tidak stabil | Mahasiswa sulit mengikuti bimbingan video (Studi A, fiktif) | Kendala akses | Ketergantungan pada satu saluran komunikasi |
| Jadwal bimbingan berubah | Bimbingan sering ditunda tanpa kabar (Studi C, fiktif) | Kendala bimbingan | Ketergantungan pada satu saluran komunikasi |
Kolom “Temuan studi asal” penting untuk menjaga jejak dari setiap tema kembali ke studi primernya. Inilah kaitan transparan antara data dan kesimpulan yang diminta SWiM.
Bagian metode dan hasil sintesis di naskah Anda dapat diperiksa dengan daftar item PRISMA 2020 berikut (parafrase).
Metode sintesis (item 13a sampai 13f)
Hasil sintesis (item 20a sampai 20d)
Untuk sintesis tanpa meta-analisis, SWiM (Campbell dkk., BMJ 2020) menyediakan 9 item pelaporan: (1) pengelompokan studi untuk sintesis, (2) metrik terstandar dan metode transformasi, (3) metode sintesis, (4) kriteria memprioritaskan hasil, (5) investigasi heterogenitas efek yang dilaporkan, (6) kepastian bukti, (7) metode penyajian data, (8) pelaporan hasil, dan (9) keterbatasan sintesis.
Untuk sintesis kualitatif, terdapat pedoman pelaporan tersendiri yang dapat Anda telusuri sesuai metode yang dipakai. Yorkville University juga menyebut RAMESES sebagai salah satu pedoman pelaporan. Bagian ini melengkapi pembahasan metode PRISMA dan diagram PRISMA 2020 yang mencatat alur seleksi studi sebelum tahap sintesis.
JurnalFlow dirancang sebagai satu ruang kerja untuk mencari, menyaring, memetakan, dan menyintesis literatur berbasis kecerdasan buatan, dengan kontrol keputusan penuh di tangan Anda. Alurnya terdiri atas empat langkah yang tersambung: 01 Identifikasi, 02 Hubungan dan Tren, 03 Screening & Kelayakan, dan 04 AI Extraction (Sintesis AI), mengikuti metode PRISMA.
Pada tahap sintesis, fitur Sintesis AI (paket Pro, Rp98.500/bulan) dapat berperan sebagai asisten untuk menyusun draf ringkasan dari studi yang sudah lolos screening. Draf ini adalah titik awal, bukan hasil akhir. Perlakukan setiap keluaran sebagai “dihasilkan AI — verifikasi sebelum digunakan”: periksa setiap pernyataan terhadap studi asli sebelum masuk ke naskah Anda. Pemilihan metode sintesis, pengelompokan studi, coding, perhitungan arah efek, dan penarikan tema maupun kesimpulan tetap menjadi pekerjaan Anda sebagai peneliti.
Jika Anda menyusun SLR bersama tim atau dengan pembimbing, fitur Kolaborasi Antar Tim membantu keputusan tim tetap konsisten dan proses review mudah dipertanggungjawabkan. Untuk memulai, paket Starter Rp0 sudah mencakup 3 proyek, kolaborator tim, metode PRISMA, dan sitasi otomatis. Gambaran alur lengkapnya ada di cara membuat jurnal SLR, dan perbandingan peran berbagai alat AI dibahas di AI untuk literature review.
Sintesis data adalah tahap ketika temuan dari studi-studi yang sudah diekstraksi digabungkan dan dievaluasi untuk menjawab pertanyaan penelitian. Bentuknya bisa meta-analisis, sintesis tanpa meta-analisis (naratif), atau sintesis kualitatif seperti sintesis tematik.
Sintesis naratif terstruktur dipakai untuk data kuantitatif heterogen yang tidak dapat digabungkan secara statistik. Sintesis tematik dipakai untuk temuan kualitatif, melalui coding, tema deskriptif, dan tema analitis.
Kelompokkan studi, susun tabel terstruktur, pilih metode yang dapat diterima, tampilkan secara visual, lalu laporkan heterogenitas, kepastian bukti, dan keterbatasan. Gunakan SWiM sebagai daftar periksa pelaporan.
Analisis memeriksa tiap studi secara terpisah, misalnya mengekstraksi data dan menilai risiko biasnya. Sintesis menggabungkan hasil banyak studi tersebut untuk menemukan pola, perbedaan, dan jawaban atas pertanyaan review.
Ya. PRISMA 2020 berlaku untuk review dengan maupun tanpa sintesis statistik, dan Cochrane Handbook Bab 12 menguraikan metode yang dapat diterima bila meta-analisis tidak memungkinkan. Syaratnya, metode sintesis dijelaskan secara spesifik beserta rasionalnya.
Vote counting menghitung studi berdasarkan arah efeknya untuk menjawab “apakah ada bukti efek?”. Metode ini dapat dipakai bila estimasi efek tidak bisa digabungkan. Vote counting berdasarkan signifikansi statistik tidak dapat diterima menurut Cochrane karena dapat menghasilkan kesimpulan keliru.
Semua sumber diakses 21 Oktober 2026.
Coba Gratis Sekarang — jurnalflow.com