

Ciri jurnal predator yang paling umum adalah penerbit yang sulit diidentifikasi, proses peer review yang tidak jelas, biaya publikasi yang tidak transparan, klaim indeksasi yang tidak dapat diverifikasi, serta undangan menulis yang agresif. Mengenali ciri-ciri ini penting bukan hanya saat Anda akan mengirim naskah, tetapi juga saat menyusun tinjauan pustaka atau Systematic Literature Review (SLR), karena artikel dari jurnal predator bisa ikut terkutip dan tersintesis tanpa disadari. Artikel ini membahas definisi, ciri, cara cek, dan langkah menyaringnya dari tinjauan pustaka Anda.
Istilah jurnal predator sering dipakai secara longgar, sehingga ada baiknya Anda berpegang pada definisi yang disepakati para ahli. Pada 2019, sekelompok peneliti dan pemangku kepentingan penerbitan ilmiah menyusun definisi konsensus yang dimuat di jurnal Nature (Grudniewicz dkk., 2019, DOI 10.1038/d41586-019-03759-y). Terjemahan bebasnya:
Jurnal dan penerbit predator adalah entitas yang mendahulukan kepentingan sendiri di atas keilmuan, dan ditandai oleh informasi yang palsu atau menyesatkan, penyimpangan dari praktik editorial dan publikasi yang baik, kurangnya transparansi, dan/atau penggunaan ajakan yang agresif dan tanpa pandang bulu.
Definisi tersebut dapat Anda baca ringkasannya di situs European Association of Science Editors (EASE).
Sebagian besar pembahasan di internet melihat jurnal predator dari sisi penulis: bagaimana agar naskah skripsi, tesis, atau disertasi Anda tidak terbit di tempat yang salah. Padahal ada sisi lain yang jarang dibahas. Rice, Skidmore, dan Cobey (2021) dalam jurnal Systematic Reviews menunjukkan bahwa artikel dari jurnal predator juga dapat masuk ke dalam systematic review melalui proses pencarian literatur (Rice dkk., 2021). Artinya, penyusun tinjauan pustaka perlu memiliki cara yang jelas untuk mengenali dan menangani sumber semacam ini.
Ciri-ciri berikut diturunkan dari elemen definisi konsensus di atas, checklist Think. Check. Submit., dan Principles of Transparency and Best Practice in Scholarly Publishing yang disusun bersama oleh COPE, DOAJ, OASPA, dan WAME (versi 4, 2022).
Jurnal yang baik mencantumkan nama penerbit, alamat, dan kontak yang dapat diverifikasi. Waspadai jurnal yang hanya menyediakan formulir web atau alamat email umum tanpa informasi institusi yang jelas.
Jurnal yang kredibel menjelaskan jenis peer review yang dipakai (misalnya single-blind atau double-blind) dan alurnya. Janji “diterima dan terbit dalam beberapa hari” patut menjadi tanda peringatan, meskipun kecepatan saja belum menjadi bukti tunggal.
Jurnal yang transparan mencantumkan dewan editorial lengkap dengan afiliasi yang dapat ditelusuri. Nama editor tanpa afiliasi jelas, atau yang tidak dapat ditemukan jejak keilmuannya di bidang jurnal tersebut, merupakan indikasi kurangnya transparansi.
Prinsip transparansi COPE, DOAJ, OASPA, dan WAME menekankan bahwa biaya harus dijelaskan dengan jelas: untuk apa, kapan ditagihkan, berapa jumlahnya, dan apakah ada keringanan. Biaya yang baru muncul setelah naskah diterima adalah tanda bahaya.
Logo Scopus, DOAJ, atau Sinta di situs jurnal tidak membuktikan apa pun. Waspadai pula nama jurnal yang sangat mirip dengan jurnal lain yang bereputasi, atau ISSN yang tidak cocok dengan data resmi.
Email yang memuji “riset Anda yang luar biasa” lalu mengajak mengirim naskah ke jurnal yang tidak sesuai bidang Anda merupakan pola ajakan tanpa pandang bulu yang disebut dalam definisi konsensus.
Jurnal yang baik memiliki pedoman penulis, informasi lisensi dan hak cipta, serta kebijakan konflik kepentingan yang mudah ditemukan.
Catatan penting: satu ciri saja belum tentu membuktikan sebuah jurnal predator. Nilailah secara keseluruhan dan gunakan checklist yang kredibel. Tinjauan sistematis oleh Cukier dkk. (2020) menemukan 93 checklist untuk mendeteksi jurnal predator, dan hanya 3 yang memenuhi kriteria berbasis bukti (Cukier dkk., 2020). Jadi, tidak semua daftar ciri di internet sama kualitasnya.
Salah satu cara cek jurnal predator yang paling praktis adalah checklist Think. Check. Submit., inisiatif lintas organisasi penerbitan ilmiah. Checklist ini awalnya ditujukan bagi penulis, tetapi pertanyaannya juga relevan untuk menilai sumber yang akan Anda kutip. Ringkasnya, ada tujuh kelompok pertanyaan:
Prinsipnya sederhana: sebagian besar jawaban Anda seharusnya “ya”. Jika banyak pertanyaan dijawab “tidak” atau “tidak tahu”, perlakukan jurnal tersebut dengan sangat hati-hati.
Langkah terpenting dalam cara cek jurnal predator adalah memverifikasi indeksasi langsung di layanan resminya, bukan dari logo atau klaim di situs jurnal.
Scopus menjalankan program re-evaluasi berkelanjutan terhadap judul yang sudah terindeks. Judul yang tidak lagi memenuhi standar dapat dihentikan (discontinued), dan daftarnya tersedia dalam Scopus source title list (berkas Excel) yang diperbarui setiap bulan (Elsevier, Scopus content policy and selection).
Ada satu poin yang sering terlewat oleh penyusun tinjauan pustaka: konten yang sudah terindeks sebelum sebuah jurnal dihentikan tetap ada di Scopus sebagai bagian dari catatan ilmiah. Jadi, “artikelnya muncul di Scopus” tidak otomatis berarti jurnalnya masih memenuhi standar saat ini. Periksa status jurnal di source title list dan bandingkan dengan tahun terbit artikel yang akan Anda kutip.
Contoh: mahasiswa S2 yang menyusun SLR untuk tesis tentang literasi digital guru menemukan artikel relevan melalui pencarian di Scopus. Sebelum memasukkannya ke tahap sintesis, ia memeriksa source title list dan mendapati jurnal tersebut tercatat sebagai discontinued. Keputusan berikutnya (tetap memasukkan, mengeluarkan, atau memisahkannya dalam analisis sensitivitas) perlu ditetapkan sesuai protokol, bukan diputuskan spontan.
Untuk jurnal open access, Anda dapat memeriksa apakah jurnal tersebut terdaftar di DOAJ. Rice dkk. (2021) menyarankan, bila jurnal tidak ditemukan di DOAJ, periksa keanggotaan COPE melalui direktori anggota di situs resmi COPE, bukan dari klaim di situs jurnal.
Untuk jurnal nasional Indonesia, periksa langsung status jurnal di portal Sinta. Jangan mengandalkan tangkapan layar atau logo di situs jurnal. Panduan menelusuri literatur dari kedua sumber ini dapat Anda baca di artikel cara mencari jurnal Scopus dan Sinta.
Bagian ini menjadi pembeda utama: bagaimana menangani jurnal predator dalam tinjauan pustaka, khususnya SLR yang menuntut proses transparan dan dapat direplikasi. Rice dkk. (2021) mencatat bahwa belum ada panduan yang disepakati secara universal, sehingga yang paling penting adalah keputusan Anda ditetapkan sejak awal dan dilaporkan secara terbuka.
Tuliskan di protokol SLR bagaimana Anda akan mengidentifikasi artikel dari jurnal yang diduga predator dan apa yang akan dilakukan terhadapnya. Misalnya: “Status jurnal diverifikasi melalui Scopus source title list, DOAJ, direktori COPE, atau portal Sinta; artikel dari jurnal yang tidak dapat diverifikasi dianalisis terpisah.”
Jika Anda memutuskan membatasi sumber, tuliskan secara eksplisit di kriteria inklusi dan eksklusi, misalnya “hanya artikel dari jurnal yang indeksasinya dapat diverifikasi di layanan resmi”. Catat alasan eksklusi di setiap tahap screening agar jumlahnya tercermin dengan benar di diagram PRISMA 2020. Ruang kerja SLR seperti JurnalFlow dapat membantu Anda menerapkan kriteria tersebut di tahap Screening & Kelayakan dan mendokumentasikan keputusan tim, sementara penilaian status jurnal tetap Anda lakukan sendiri.
Nilailah kualitas setiap studi, apa pun jurnalnya. Penilaian kritis membantu menyaring riset berkualitas rendah, baik yang terbit di jurnal predator maupun di jurnal bereputasi. Status jurnal tidak menggantikan penilaian terhadap metode studi itu sendiri.
Rice dkk. (2021) menyarankan analisis sensitivitas: bandingkan hasil sintesis dengan dan tanpa artikel yang diduga berasal dari jurnal predator. Jika kesimpulan berubah signifikan, hal itu perlu dilaporkan dan dibahas.
Rice dkk. bahkan menimbang untuk tidak langsung membuang artikel semacam ini, karena mengeluarkannya begitu saja berpotensi menimbulkan bias publikasi. Tidak ada satu jawaban yang benar untuk semua SLR. Yang penting, pilihan Anda dijelaskan dengan alasan yang jelas di bagian metode, sehingga pembimbing, penguji, atau reviewer dapat menilainya.
Menyaring ratusan artikel sambil memverifikasi sumbernya bisa melelahkan bila dikerjakan di spreadsheet yang tersebar. JurnalFlow adalah platform Systematic Literature Review berstandar PRISMA yang menyatukan proses tersebut dalam satu ruang kerja:
Perlu ditegaskan, JurnalFlow berperan sebagai asisten. Verifikasi status jurnal, penilaian kualitas studi, dan keputusan akhir tentang artikel mana yang masuk ke sintesis tetap berada di tangan Anda sebagai peneliti. Paket Starter tersedia gratis (Rp0/bulan) dengan 3 proyek, pencarian jurnal otomatis, dan metode PRISMA.
Mengenali ciri jurnal predator adalah langkah awal, tetapi bagi penyusun tinjauan pustaka dan SLR, yang lebih penting adalah proses penyaringannya. Ringkasnya:
Dengan cara ini, tinjauan pustaka Anda lebih mudah dipertanggungjawabkan di hadapan pembimbing maupun reviewer.
Jurnal predator adalah jurnal atau penerbit yang mendahulukan kepentingan sendiri di atas keilmuan, ditandai informasi palsu atau menyesatkan, penyimpangan dari praktik editorial yang baik, kurangnya transparansi, dan/atau ajakan menulis yang agresif dan tanpa pandang bulu (definisi konsensus Grudniewicz dkk., 2019).
Gunakan checklist Think.Check.Submit, lalu verifikasi klaim indeksasi langsung di layanan resminya: Scopus source title list (termasuk daftar discontinued), DOAJ, direktori anggota COPE, atau portal Sinta untuk jurnal nasional. Jangan hanya mengandalkan logo di situs jurnal.
Tidak ada satu daftar resmi tunggal yang disepakati secara universal. Daripada mengandalkan daftar nama, lebih aman memverifikasi setiap jurnal secara langsung di layanan indeksasi resmi dan menilainya dengan checklist yang kredibel seperti Think.Check.Submit.
Artikel yang terindeks sebelum jurnalnya dihentikan tetap tercatat di Scopus. Boleh atau tidaknya dikutip bergantung pada kriteria yang Anda tetapkan di protokol serta penilaian kualitas studinya. Periksa status jurnal dan tahun terbit artikel, lalu jelaskan keputusan Anda secara transparan. Ikuti juga ketentuan program studi atau pembimbing Anda.
Belum ada panduan yang disepakati secara universal. Rice dkk. (2021) menyarankan agar penanganannya ditetapkan sejak protokol, dan menimbang analisis sensitivitas alih-alih langsung membuang artikel, untuk menghindari bias publikasi. Apa pun pilihan Anda, laporkan secara transparan di bagian metode.
Diakses 8 Oktober 2026.
Siap membuat tinjauan literatur lebih terarah? Mulai susun SLR Anda di satu ruang kerja berstandar PRISMA, dengan keputusan tetap di tangan Anda.
Coba Gratis Sekarang — jurnalflow.com