
Screening artikel systematic review yang dikerjakan bersama tim paling dapat dipertanggungjawabkan bila setiap record disaring oleh dua reviewer secara independen, diawali pilot screening untuk menyamakan pemahaman, dan ditutup dengan rekonsiliasi serta pelaporan sesuai PRISMA 2020. Panduan ini membahas langkah-langkahnya secara praktis, mulai dari menyusun pertanyaan screening, mengukur kesepakatan dengan Cohen’s kappa, hingga menulis paragraf metode untuk tesis atau artikel jurnal Sinta dan Scopus. Di bagian akhir, Anda juga akan melihat bagaimana ruang kerja kolaboratif JurnalFlow dapat membantu tim menerapkan kriteria yang sama.
Screening adalah proses memilah literatur hasil pencarian berdasarkan kriteria yang telah ditetapkan, sehingga hanya studi yang relevan yang masuk ke tahap analisis. Dalam systematic literature review (SLR), screening umumnya berlangsung dalam dua tahap:
Pertanyaannya, cukupkah satu orang? Kajian metodologis Waffenschmidt dkk. (2019) membandingkan single screening dengan double screening konvensional. Hasilnya, single screening judul dan abstrak tidak setara dengan double screening: median proporsi studi yang terlewat sekitar 5%, dengan rentang 0 hingga 58% (Waffenschmidt dkk., 2019). Karena itu, penggunaan dua reviewer independen umumnya direkomendasikan. Single screening mungkin dapat diterima pada rapid review, selama dikerjakan oleh reviewer yang berpengalaman.
Bagi mahasiswa S2/S3 yang mengerjakan SLR bersama pembimbing, atau dosen yang menjalankan penelitian hibah bersama rekan, temuan ini menjadi alasan kuat untuk merancang screening sebagai kerja tim sejak awal.
Dua reviewer hanya bisa konsisten bila mereka menilai dengan “penggaris” yang sama. Langkah pertama adalah mengubah kriteria inklusi dan eksklusi yang tertulis di protokol menjadi daftar pertanyaan screening yang operasional.
Polanin dkk. (2019) dalam pedoman praktik terbaik screening abstrak menyarankan agar pertanyaan screening (Polanin dkk., 2019):
Misalkan tim Anda mengerjakan SLR dengan topik ilustratif berikut: pengaruh gamifikasi terhadap motivasi belajar siswa SMP. Pertanyaan screening dapat disusun seperti ini:
Setiap pertanyaan berdiri sendiri dan dijawab ya/tidak/ragu. Record lolos bila tidak ada jawaban “tidak” pada pertanyaan wajib.
Jangan langsung membagi ribuan record ke anggota tim. Polanin dkk. menyarankan agar seluruh anggota menyaring 20 sampai 30 abstrak yang sama terlebih dahulu, lalu mendiskusikan setiap perbedaan keputusan. Proses ini diulang sampai tim mencapai konsensus.
Dari pilot screening, biasanya akan muncul kriteria yang ternyata ambigu. Misalnya, apakah studi pada siswa madrasah tsanawiyah termasuk “SMP atau setara”? Apakah aplikasi kuis daring dengan papan peringkat sudah dihitung sebagai gamifikasi? Perbaiki redaksi pertanyaan screening, lalu catat setiap kesepakatan sebagai aturan keputusan tertulis. Dokumen ini menjadi rujukan bersama selama screening berjalan dan sangat membantu saat Anda menulis bab metode.
Setelah kalibrasi selesai, setiap record disaring oleh dua reviewer yang bekerja tanpa saling melihat keputusan satu sama lain. Independensi inilah yang membuat perbedaan keputusan bisa terdeteksi.
Beberapa praktik yang membantu:
Perbedaan keputusan antar-reviewer adalah hal wajar. Yang penting adalah prosedurnya jelas dan konsisten. Salah satu opsi prosedur yang umum dipakai:
Dokumentasi ini bukan formalitas. Penjelasan dan elaborasi (E&E) PRISMA 2020 meminta penulis melaporkan proses yang dipakai untuk menyelesaikan ketidaksepakatan (Page dkk., 2021, E&E).
Cara paling sederhana mengukur kesepakatan adalah percent agreement, yaitu proporsi record yang diputuskan sama oleh kedua reviewer. Menurut McHugh (2012), ukuran ini mudah dihitung, tetapi tidak memperhitungkan kemungkinan kesepakatan yang terjadi karena kebetulan atau tebakan. Cohen’s kappa dikembangkan untuk mengoreksi hal tersebut (McHugh, 2012).
Rumusnya: kappa = (po − pe) / (1 − pe), dengan po adalah proporsi kesepakatan yang teramati dan pe adalah proporsi kesepakatan yang diharapkan karena kebetulan.
Misalkan dua reviewer menyaring 100 abstrak yang sama dengan hasil berikut:
| Reviewer B: inklusi | Reviewer B: eksklusi | Total A | |
|---|---|---|---|
| Reviewer A: inklusi | 15 | 5 | 20 |
| Reviewer A: eksklusi | 10 | 70 | 80 |
| Total B | 25 | 75 | 100 |
Kesepakatan 85% terlihat tinggi, tetapi setelah dikoreksi faktor kebetulan, kappa hanya sekitar 0,57. Ini terjadi karena sebagian besar record memang dieksklusi oleh kedua reviewer, sehingga peluang “sepakat secara kebetulan” cukup besar.
| Nilai kappa | Tingkat kesepakatan |
|---|---|
| 0–0,20 | Tidak ada |
| 0,21–0,39 | Minimal |
| 0,40–0,59 | Lemah |
| 0,60–0,79 | Sedang |
| 0,80–0,90 | Kuat |
| > 0,90 | Hampir sempurna |
Dengan tabel ini, kappa 0,57 pada contoh di atas tergolong lemah, sinyal bahwa tim perlu kembali mendiskusikan aturan keputusan sebelum melanjutkan.
Satu catatan dari Polanin dkk.: rekonsiliasi berkala memang menyulitkan perhitungan statistik reliabilitas konvensional, karena keputusan reviewer saling memengaruhi setelah diskusi. Namun, menurut mereka, manfaatnya bagi efisiensi dan reliabilitas lebih besar. Karena itu, laporkan dengan jelas pada titik mana kappa dihitung, misalnya pada data pilot atau pada batch sebelum rekonsiliasi pertama.
Pola yang sama berlaku pada tahap full-text: dua reviewer menilai setiap laporan secara independen, lalu melakukan rekonsiliasi. Bedanya, pada tahap ini Anda wajib mencatat alasan eksklusi untuk setiap laporan, misalnya “populasi bukan siswa SMP” atau “tidak mengukur motivasi belajar”.
Catatan ini akan menjadi isi kotak eksklusi pada diagram PRISMA 2020. Setelah daftar studi final terkumpul, tim dapat melanjutkan ke tahap ekstraksi data systematic literature review.
Item 8 (selection process) PRISMA 2020 meminta penulis menjelaskan metode yang dipakai untuk menentukan apakah sebuah studi memenuhi kriteria inklusi, termasuk berapa reviewer yang menyaring setiap record dan setiap laporan yang diambil, apakah mereka bekerja secara independen, dan bila relevan, detail alat otomasi yang digunakan (Page dkk., 2021).
Dokumen E&E menambahkan dua hal: laporkan proses penyelesaian ketidaksepakatan, dan bila memakai alat otomasi, jelaskan bagaimana alat itu diintegrasikan, misalnya apakah record dikeluarkan hanya berdasarkan penilaian mesin atau penilaian mesin dipakai untuk memeriksa ulang keputusan manusia.
Anda dapat menyesuaikan template berikut untuk bab metodologi tesis, disertasi, atau naskah jurnal:
Screening dilakukan dalam dua tahap, yaitu judul dan abstrak, kemudian full-text. Sebelum screening, kedua reviewer (penulis pertama dan penulis kedua) melakukan pilot screening terhadap [jumlah] abstrak yang sama untuk menyamakan penafsiran kriteria. Setiap record dan setiap laporan full-text disaring oleh dua reviewer secara independen. Ketidaksepakatan diselesaikan melalui diskusi; bila konsensus tidak tercapai, reviewer ketiga [nama/peran] memberikan keputusan akhir. Kesepakatan antar-reviewer pada tahap [pilot/judul dan abstrak] diukur dengan Cohen’s kappa (κ = [nilai]). [Sebutkan aplikasi yang digunakan dan perannya dalam proses screening.]
Protokol yang dibahas di atas membutuhkan ruang kerja tempat seluruh anggota tim mengakses data yang sama. JurnalFlow menyediakan fitur Screening dan Kolaborasi Antar Tim untuk kebutuhan ini. Anda dapat berkolaborasi dengan tim riset pada proyek yang sama dengan satu sumber: bagikan proyek, lalu terapkan kriteria inklusi dan eksklusi secara konsisten bersama seluruh anggota tim.
Setiap tahap tersambung dalam satu ruang kerja, sehingga keputusan tim tetap konsisten dan proses review mudah dipertanggungjawabkan.
Perlu ditegaskan, keputusan inklusi dan eksklusi tetap berada di tangan reviewer. Protokol independen, pilot screening, rekonsiliasi, dan perhitungan kappa tetap dijalankan oleh tim sesuai panduan di atas, lalu dilaporkan di bab metode.
Kolaborator tim dan metode PRISMA sudah termasuk dalam paket Starter Rp0 (3 proyek). Bila tim Anda membutuhkan proyek tanpa batas dan sintesis AI, tersedia paket Pro Rp98.500/bulan. Jika Anda sedang membandingkan aplikasi screening, ulasan alternatif Rayyan dapat menjadi bahan pertimbangan.
Coba Gratis Sekarang dan undang rekan peneliti Anda ke proyek pertama.
Umumnya dua reviewer independen untuk setiap record dan laporan. Waffenschmidt dkk. (2019) menunjukkan single screening judul dan abstrak tidak setara dengan double screening. Reviewer ketiga dapat disiapkan sebagai penengah.
Single screening mungkin dapat diterima pada rapid review bila dikerjakan reviewer berpengalaman, tetapi risikonya adalah studi relevan terlewat. Bila memungkinkan, libatkan pembimbing atau rekan sebagai reviewer kedua, setidaknya pada sebagian record, dan laporkan prosedurnya secara jujur sesuai ketentuan program studi Anda.
Pilot screening adalah uji coba bersama untuk menyamakan penafsiran kriteria. Polanin dkk. (2019) menyarankan seluruh anggota tim menyaring 20–30 abstrak yang sama, mendiskusikan perbedaan, dan mengulanginya sampai tercapai konsensus.
Diskusikan dengan merujuk aturan keputusan tertulis. Bila tetap buntu, libatkan reviewer ketiga sebagai penengah. Catat alasan keputusan akhir dan laporkan prosedurnya di bab metode.
Percent agreement hanya menghitung proporsi keputusan yang sama. Cohen’s kappa mengoreksi kesepakatan yang mungkin terjadi karena kebetulan, sehingga nilainya tidak pernah melebihi percent agreement (McHugh, 2012). Seperti pada contoh di atas, kesepakatan 85% dapat menghasilkan kappa yang tergolong lemah.
Metode penentuan kelayakan, jumlah reviewer per record dan per laporan, apakah mereka bekerja independen, proses penyelesaian ketidaksepakatan, serta detail alat otomasi bila digunakan.
Coba Gratis Sekarang — jurnalflow.com